Biografi Buya Hamka
Buya Hamka memiliki nama lengkap Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah Datuk Indomo, yang merupakan seorang filsuf, ulama dan sastrawan Indonesia.
Nama Hamka merupakan nama Akronomin dari Abdullah Malik Karim, dan Abdul Malik merupakan nama panggilan kecilnya, sedangkan Buya adalah panggilan khusus bagi orang Minangkabau.
Ayah Buya Hamka terkenal dengan sebutan "Haji Rosul" merupakan seorang ulama dan ibunya mempunyai latar belakang sebagai seniman.
Mamasuki usia 10 tahun Hamka di masukan ke sekolah Thawalib disitulah beliau belajar agama dan bahasa arab.
Di usia remaja Hamka memutuskan untuk merantau ke Yogyakarta dan disana ia mempelajari tentang pergerakan Islam Modern kepada Ki Bagus Hadikusumo, H.O.S Tjokroaminoto, R.M. Soerjopranoto, dan H. Fakhrudin, dari mereka Hamka mempelajari tentang perbandingan Islam dan politik yaitu Syarikat Islam Hindia Timur dan Gerakan Sosial Muhamadiyah.
Setelah belajar di Jawa Hamka kembali ke Padang Panjang untuk mengurus perserikatan muhamadiyah. Kemudian Hamka memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Mekkah dan pada saat itu pula beliau mendapatkan saran agar dapat berkarir sebagai penulis oleh J. Agus Salim.
Karir Buya Hamka
Diketahui Hamka memiliki karier di berbagai bidang terutama yang berhubungan dengan agama Islam dan penulisan.
Hamka pernah bekerja sebagai penulis di Majalah Pelita Andalas, Medan, Sumatera Utara. Disitu ia banyak membuat karya tulisan dan artikel.
Hamka menikah dengan Siti Raham, setelahnya beliau aktif dan berkecimpung dalam kepengurusan Muhamadiyah bahkan kariernya semakin naik karena Abdul Malik Karim Amrullah terpilih sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia yang pertama pada tahun 1975 dan menjabat selama 5 tahun tahun.
Ada beberapa karya dari Buya Hamka diantaranya ada Tafsir Al-Azhar yang di dalamnya mengenai ceramah atau kuliah subuh yang sering ia sampaikan sejak tahun 1959 di Mesjid Al-Azhar.
Dari novel tersebut ada beberapa penggalangan pesan yang menyentuh hati diantarnya yaitu :
"Lawan saya adalah hati saya sendiri"
"Yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Luka pun ada sembuhnya."
"Sudah hilangkah tentang kita dari hatimu? Janganlah kau jatuhkan hukuman, kasihanilah perempuan yang ditimpa musibah berganti-ganti ini."
"Cinta bukan melemahkan semangat,tapi membangkitkan semangat."
Penghargaan
Besarnya pengaruh Buya Hamka yang didalam bidang sastra dan agama Islam menjadikannya sebagai sosok yang mendapatkan penghargaan Pahlawan nasional setelah wafat pada pada tanggal 24 Juli 1981 yang dimakamkan di TPU Tanah Kusir Jakarta Selatan.
Selain itu nama Buya Hamka dijadikan sebagai nama perguruan tinggi yaitu Universitas Muhammadiyah Hamka.
Terbaru biografi Hamka juga dijadikan sebagai film yang berjudul Buya Hamka dan rilis pada tahun 2023.
Buya Hamka adalah sosok inspiratif bagi saya dan kalangan anak muda lainnya dengan karya-karya yang sangat menginspirasi.
Semoga Allah senantiasa merahmatinya.
Referensi:
Pribadi dan Martabat Buya Hamka karya Rusydi Hamka (2017)

