"Bangkit"
Tid... tid….. Pagi itu suara klakson berbunyi tanpa sadar Ali pun di bangunkan oleh klakson yang keras itu.
Aduhhhhh.. Siapa si pagi-pagi udah nyalain klakson berisik banget lagi, ali pun jengkel sambil menutup telinga.
Pagi itu munir temannya Ali pun menjemput, karena munir tau dan sudah pasti jika Ali tidak di jemput pasti ia akan terlambat ke sekolah.
Alii..!! bangun ,ini aku munir ayo cepat-cepat mandi hari ini kan hari kita perpisahan sekolah jam 7 sudah dimulai "sambil berteriak".
Karena keluarga Ali pun sudah tidak aneh lagi terhadap tingkah laku munir dan Ali karena sudah tau mereka adalah sahabat seperjuangan.
Wah iya hari ini kan hari terakhir kita di sekolah, Ali pun sontak berlari ke dalam kamar mandi.
Cepat ya li.. Aku tunggu 15 Menit kalo lama, dan masih belum juga aku tinggal ya. "Munir pun cekikikan sambil menutup mulut"
Aduhhh iya bawel banget si kamu ini!! "Sontak Ali kesal".
Beberapa jam kemudian Ali pun selesai.
Ayo, kita mending sarapan dulu agar tidak masuk angin nanti,di rumah aku sama nenek ni..masakan nenek ku sangat lezat loh..
Yasudah ayo,tapi dipercepat ya soalnya sebentar lagi akan segera dimulai.
Merekapun sarapan bersama, di meja makan sambil bersenda gurau di temani juga bersama sang nenek.
Di tengah-tengah perbincangan mereka, munir pun sontak berbicara.
Kedua orang tua ku nanti akan datang ke acara perpisahan , ali nanti kamu pulangnya sendiri tidak apa apa kan??
Tidak apa-apa nanti kan ada nenek juga kan datang jadi aku pulang bersama nenek saja berdua iyakan nek?? "tanya Ali".
Hmmm..iya sayang InsyaAllah nenek datang nanti, jika tidak ada kendala. " Sambil tersenyum"
Karena kedua orang tua Ali sudah berpisah dan keduanya sibuk, alhasil kedua orang tua nya pun tidak bisa ikut datang menghadiri acara yang istimewah itu. Dan sebagai gantinya siapa lagi selain sang nenek.
Sesudahnya makan mereka pun segera bergegas untuk ke sekolah.
Riuh pikuk di sekolah pun mulai terasa dari sorak teman-teman sampai suara sound pun mulai menggema. Ali pun sangat sedih bercampur gembira karena hari itulah Ali melihat teman-teman nya, detik detik terakhirnya bersekolah, di barengi dengan bergenggam bercengkrama bersama -sama, di sisi lain Ali sangat senang karena lulus dengan sempurna bersama teman-temannya,yang sayang akan dirinya dan mereka pun antusias bersamaan.
Jam demi jam pun sudah terlewati di penghujung acara teman-temannya pun dihadiri oleh kedua orang tuanya masing-masing. Tetapi Ali hanya berdiam diri dan melihat kesana kemari mencari sangat nenek.
Tring!, suara pesan chat pun berbunyi
Nenek : maaf ya sayang… nenek tidak bisa hadir di acara perpisahan mu karena kaki nenek serentak sangat sakit untuk berjalan, maafkan nenek ya sayang…
Ali pun sontak menelan ludah" glup"!, dengan mata yang berkaca-kaca menuju toilet.
Kenapa nasib hidupku sangat buruk sekali seperti nya tidak ada yang sayang kepada ku hiks, hikss .. Ali menangis terseguk-seguk menahan rasa pedih.
Setelah tangisan Ali selesai, Ali pun berdiam diri di sebuah pohon rindang yang tak jauh dari sekolah. Tanpa sadar Ali larut dalam lamunannya dan berpikir bahwa jika ia terus menerus merenungkan hal yang tidak pantas direnungkan sama halnya akan membuang waktunya sendiri secara cuma-cuma, tidak sama halnya dengan menyakiti batin diri sendiri, Ali pun bangkit dari keterpurukan nya dan bertekad meyakinkan dirinya bahwa bisa menghadapi dari segala kondisi badai hidup dan menerima atas ketentuannya serta membahagiakan orang-orang di sekitarnya dan ali pun berjalan untuk pulang.
Tok, tok… ." Ketukan pintu berbunyi"
Clik! "Pintu rumah terbuka" Assalamu'alaikum nek Ali pulang…
Waalaikumsalam..
Nenek yang sakit kakinya pun langsung menghampiri Ali yang sedang duduk.
Maaf ya sayang,..Nenek ga bisa hadir siang tadi kaki nenek sakit sekali..
Tidak apa-apa nek.. Ali paham kondisi nenek," sambil memijat kaki sang nenek"
Jika saja orang tua mu ada dirumah pasti akan ada yang datang ke acara mu sayang.. "Sahut sang nenek"
Tidak apa-apa nenek.. Ali sangat paham.
Ali yang sedikit jengkel yang tidak mau membahas yang sudah-sudah pun mengalihkan pembicaraan.
Lebih baik nenek sekarang istirahat ya nek.. Ali pun sama sedikit cape nek Ali mau mandi dan istirahat…..
Ali yang sudah kelelahan pun bersegera menuju kamarnya, dan beristirahat.
Keesokan paginya, Ali bangun sangat pagi karena ia mau segera bergegas untuk mempersiapkan persyaratan bekerja.
Ali pun meminta izin kepada neneknya untuk berangkat ke luar kota dan mencari pekerjaan di sana.
Salam memasukkan lamaran ke beberapa perusahaan Ali diterima di salah satu perusahaan konstruksi dan di situ Ali bekerja untuk pertama kalinya.
Ali yang masih kurang pengalaman dia mencoba untuk menyesuaikan diri meski pekerjaannya ditempatkan di lapangan.
Panas hujan menyertai Ali ketika dia bekerja dan hari demi hari pun tidak terasa sudah terlewati sampai akhirnya Ali mendapatkan upah untuk pertama kalinya.
Ali pun merasa senang tanpa sadar ketika dia pulang ke rumahnya sama ini pun terkejut melihat.
Ali kamu tampak hitam sekali. "Tanya nenek"
Ali pun terdiam dan cuman bisa memberi hasil jerih payahnya kepada sang nenek.
Ali pun masuk kamar dan mulai berkaca dan ternyata memang benar perubahan nampak jelas di kulit Ali yang dulunya sawo matang sekarang menjadi lebih hitam.
Ali tidak berlama-lama di rumah Ali pun memutuskan untuk kembali berangkat bekerja sampai akhirnya Ali mendapatkan info dari kawan-kawan alumni sekolahnya bahwa ada penerimaan di salah satu instansi pemerintah dan Ali pun mencoba untuk mengikutinya.
Ketika Ali mengikuti seleksi penerimaan tersebut beberapa tes sudah dilewati akan tetapi saat tes terakhir kali dinyatakan gagal dan hal itu harus menahan impiannya waktu itu.
Sampai akhirnya Ali pun kembali memutuskan untuk bekerja di perusahaan yang berbeda namun diiringi dengan melanjutkan pendidikannya di jenjang perkuliahan.
Sambil bekerja di sering menyempatkan waktu untuk belajar sampai Ali kadang kurang tidur karena kesibukannya.
Siang Ali habiskan untuk mencari uang dan malam harinya Ali gunakan untuk belajar.
Beberapa tahun kemudian Ali dinyatakan lulus dari perkuliahan dan karena dia bekerja Ali pun sudah memiliki tabungan untuk masa depannya.
Ali memang tidak memiliki harta yang terlalu banyak akan tetapi pada saat Ali berjuang Ali menemukan sosok wanita yang menjadi tambahan semangat bagi Ali.
Sampai akhirnya Ali menjalin hubungan dengan perempuan itu berjalan bersama untuk menggapai cita-cita meraka.
Baca juga:

Kisahnya bagus yang menceritakan perjuangan seorang laki-laki.
BalasHapusWah pengen tau kisah cinta selanjutnya
HapusSemangat, Li!
BalasHapusAyo, fighting!!
Sekadar saran, Kak. Barangkali dapat Kakak pertimbangkan agar pembaca lebih nyaman saat membaca nanti. Dapat dipertimbangkan agar Kakak memberikan tanda petik ("...") untuk setiap dialog yang dikemukakan. Sehingga, pembaca paham apakah ini sedang terjadi dialog atau masih berupa narasi.
Misalnya:
Sepulang menyebar beberapa surat lamaran pekerjaan, Ali pulang. Baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah, Nenek menyambutnya.
"Sudah pulang, Li? Gimana nyebar lamarannya?" tanya Nenek ramah.
"Iya, Nek. Capek banget Ali hari ini. Nenek sendiri gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah, Nenek melakukan banyak hari ini. Tadi aja, Nenek abis zumba sambil main catur sama Pak RT," jawab Nenek seraya tersenyum.
***
Semangat, Kak!!
Real kehidupan bgt ya kisah si Ali
BalasHapusTerus endingnya Ali jadi menikah?
BalasHapusAli tidak seorang diri, banyak Ali-Ali lain yang bernasib sama. Beruntung Ali masih memiliki nenek yang menemaninya. Semangat berjuang Ali !
BalasHapusSeandainya si Ali tahu bagaimana kehidupan dari sudut pandang Nenek, barangkali Ali bisa memaklumi perasaan Nenek tentang kedua orangtuanya.
BalasHapusApakah akan diceritakan juga kisah saat Ali menikah dan memiliki anak di part selanjutnya? Wah, jadi pamasaran.
BalasHapusTambatan hati memang penyemangat yang hakiki
BalasHapus